Jumat, 13 Maret 2015

HARHA NASI AKING NAIK 50 %



Harga Nasi Aking Naik 50%




potret kemiskinan @nuswantara com
IUSTRASI
NUSWANTARA COM - Akibat dampak kenaikan harga beras yang terjadi beberapa pekan ini, nasi aking juga ikut naik. Hal ini terjadi di Kendal. Harga nasi aking di Kabupaten Jawa Tengah, mengalami kenaikan hingga mencapai 50% karena banyak dicari warga.
Sarmini (50), penjual nasi aking di Pasar Kendal, mengatakan bahwa harga nasi aking saat ini Rp4.500 per kilogram. Semula, harga nasi aking hanya Rp3.000 per kilogram (Kg). “Semenjak harga beras naik, harga nasi aking juga ikut naik,” katanya, kemarin.
Kenaikan harga nasi aking juga curah hujan tinggi. Sebab, untuk proses penjemuran membutuhkan waktu yang cukup lama. “Membutuhkan berhari-hari untuk bisa kering, karena masih sering hujan,” lanjutnya.
Sebelum harga beras naik di pasaran, biasanya dia membeli sisa-sisa nasi dari masyarakat sekitar dua kwintal setiap harinya. Namun, saat ini hanya dapat mengumpulkan stok satu kuintal per hari.
“Per kilonya, saya mendapat keuntungan 500 rupiah. Sehari, saya bisa menghabiskan dagangan nasi aking,” tambahnya
Solikatun (46), salah satu pembeli nasi aking, mengaku setiap hari dirinya membeli nasi aking. Nasi itu, untuk campuran beras yang akan ditanak. Sebab, dia meyakini, nasi aking bisa menyembuhkan penyakit diabetes.
“Sehari, setidaknya saya beli dua kilogram nasi aking. Lalu, saya campurkan ke beras, yang biasa kami makan,” tandasnya.
Nasi aking adalah makanan dari sisa-sisa nasi yang tak termakan dan dikeringkan di terik matahari. Nasi ini biasanya digunakan untuk makanan unggas, bisa juga dijadikan kerupuk. Nasi aking biasanya dimakan dengan sambal atau parutan kelapa.
Seputar tingginya harga beras, pemerintah Jokowi berkelit. Katanya, turunnya produksi padi di tahun 2014 dibandingkan tahun 2013 dinilai turut memberi andil terhadap kenaikan harga beras pada Februari 2015.
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, penurunan produksi padi terjadi di provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara. Hal itu membuat produksi padi sepanjang tahun 2014 (ASEM) mencapai 70,83 juta ton gabah kering giling turun sekitar 0,63% dari produksi tahun 2013 sebesar 71,28 juta ton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar