Masih Gila Harta, Padahal Rasulullah Diwafatkan dalam Keadaan Miskin?
ILUSTRASI.
NUSWANTARA COM - Ada yang perlu kita pikirkan masak-masak
tentang berbagai motivasi dan training terkait kekayaan duniawi.
Pasalnya, jika sebagiannya benar, ada banyak hal yang syubhat di
dalamnya. Pasalnya, jika menurut para trainer itu kaum muslimin harus
kaya, faktanya tidak selalu demikian.
Bukankah banyak sahabat Nabi yang awalnya
kaya pun, ketika masuk Islam, beliau wafat dalam kekurangan harta?
Disebutkan pula bahwa sebagian mereka menjalani kehidupan prihatin sebab
zuhud yang bermakna tidak tertarik dengan dunia.
Karenanya, tidak salah jika semangat kaya
ditiupkan dalam diri kaum muslimin, namun akan menjadi masalah tatkala
kekayaan menjadi tujuan utama hingga menghalalkan segala cara.
Apalagi Islam yang selamat, suci dan
bersih, amat teliti terkait harta; dari mana dan bagaimana mendapatkan,
serta ke mana dan bagaimana harta itu dimanfaatkan.
Mari berhenti sejenak, untuk melihat
riwayat-riwayat shahih yang dikutip oleh Dr Abdullah Azzam dalam
Tarbiyah Jihadiyah tentang kondisi Nabi dan sahabatnya.
Disebutkan dalam riwayat Imam Muslim,
bahwa ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Demi Allah, kami
belum pernah makan kurma sampai kenyang”, pungkas Ummul Mukminin ini,
“Kecuali setelah penaklukan Khaibar.”
Jika istri sang Nabi berkata demikian,
tegakah jika saat ini kita amat berambisi dengan makanan berlebihan
meskipun halal? Tegakah kita menjadwalkan makan di mana dengan menu apa,
sementara Nabi dalam riwayat ini, tak pernah kenyang dalam tiga hari
berturut-turut?
Dalam lanjutan riwayat ini disampaikan,
“Tidak pernah sekali pun keluarga Muhammad memakan roti dari Sya’ir
sampai kenyang selama dua hari berturut-turut.” Sya’ir adalah roti yang
berasal dari gandum.
Duhai diri, apakah ini tak cukup menjadi
perenungan kita? Bahwa mereka yang dijamin surga itu, tak pernah makan
makanan yang mewah. Mereka yang namanya disebut dalam puji-pujian
sepanjang hari, adalah sosok yang menjaga diri dari makanan berlebihan.
Bahkan, tak pernah kenyang dalam dua hari berturut-turut.
Sementara itu, sebagaimana disebutkan
oleh Anas bin Malik sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah diwafatkan oleh Allah Ta’ala,
sedangkan beliau belum pernah menikmati daging kambing bakar.”
Kondisi inilah yang membuat Abdurrahman
bin Auf menangis ketika disuguhi makanan yang lezat. Sosok kaya raya
yang terdepan dalam shalat dan jihad serta dijamin masuk surga ini
berkata, “Sungguh, sahabat-sahabat kami telah wafat.” Namun, lanjutnya
tersedu-sedu, “Mereka belum pernah melihat yang seperti ini.”
“Bahkan”, pungkasnya kemudian, “Mush’ab bin Umair yang lebih baik dari kami, ia belum pernah melihat makanan yang seperti ini.”
Maka, orang-orang beriman tak pernah
risau dengan harta. Mereka mengerti, tak masalah menjalani hidup dalam
kaya ataupun miskin. Sebab kaya yang bersyukur dan miskin yang sabar
adalah dua jalan yang sama-sama bisa digunakan untuk memasuki surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar