Minggu, 29 Maret 2015

EMPAT KUNCI SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT.

EMPAT KUNCI SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT.
http://dakwahnuswantara22.blogspot.com/
Ilustrasi.


NUSWANTARA COM
- Mahasuci Allah Ta’ala yang telah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melalui malaikat Jibril ‘Alaihis sallam. Itulah petunjuk yang paling benar, tak ada kesesatan maupun kebengkokan di dalamnya. Siapa yang percaya dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, jaminannya adalah sukses di dunia dan sejahtera di akhirat.
Sedangkan orang yang ingkar terhadap apa yang ada di dalamnya, kemudian menghalang-halangi orang lain untuk mendapatkan hikmah darinya, lalu mereka berpaling mencari petunjuk kehidupan yang lain; bagi mereka kesesatan hidup di dunia yang ujungnya siksa neraka.
Ada kiat sukses dunia dan akhirat yang Allah Ta’ala sampaikan di awal surat al-Baqarah. Sayangnya, kunci ini jarang dimanfaatkan oleh kaum muslimin; entah karena ketidaktahuan maupun kesengajaan. Bahkan, banyak yang melakukan amalan ini, namun tak sedikit pun ada penghayatan. Sebab mereka hanya menganggapnya sebagai kewajiban semata.

Percaya pada yang Ghaib

Banyak yang menolak Islam karena perkara ini. Mereka hanya percaya pada yang tampak saja. Sedangkan untuk sesuatu yang tak bisa diindra, mereka menolaknya mentah-mentah. Apalagi terhadap ajaran-ajaran yang nampak tidak logis sebab tidak sesuai dengan logika manusia. Padahal, logika dan alat indra yang Allah Ta’ala kurniakan kepada manusia amatlah terbatas jika digunakan untuk mengakses segala pengetahuan keghaiban-Nya yang Maha sempurna.
Iman kepada yang ghaib menurut penafsiran ulama’ adalah percaya kepada Allah Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, surga, neraka dan pertemuan dengan-Nya. Kemudian mempercayai adanya kehidupan selepas kematian sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amal yang dilakukan di dunia ini.
Jika seseorang percaya akan hal itu semua, maka ia akan sangat berhati-hati dalam hidup, memanfaatkan seluruh potensi untuk kebaikan, mengenyahkan apa yang yang tak bermanfaat bagi dirinya, dan bersegera mengumpulkan bekal untuk kehidupan selepas mati. Inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan pendahulu umat ini sehingga berhasil menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah yang namanya harum disebut-sebut dalam al-Qur’an, hadits, maupun sejarah kehidupan manusia hingga akhir zaman.
Sebaliknya, mereka yang hanya percaya kehidupan dunia dan menafikan akhirat, sejatinya yang ia lakukan hanyalah menggali kuburnya, dan siksa neraka telah menantinya.

Dirikan Lima yang Wajib dan Sunnah

Inilah tiangnya agama. Shalat. Siapa mendirikannya, ia telah menegakkan agamanya. Sedangkan yang meninggalkannya, selain merobohkan agama, baginya predikat kafir dan terjamin atasnya siksa neraka jika meninggal sebelum wafat.
Mendirikan shalat, oleh adh-Dhahhak dan Ibnu Abbas dijelaskan sebagai mengerjakan rukuk, sujud, dan bacaan shalat dengan sempurna, serta penuh kekhusyukan. Khusyuk ialah tenang, fokus, dan mengikhlaskan seluruh amal hanya untuk Allah Ta’ala. Kekhusyukan dalam shalat akan terlihat pula dalam fisik, dan kehidupan sehari-hari di luar shalat.
Sedangkan Qatadah mendefinisikan mendirikan shalat dengan mengatakan, “Mengerjakannya dengan menjaga waktunya, menyempurnakan wudhu, rukuk dan sujudnya.” Sedangkan Muqatil bin Hayyan menambahkan makna mendirikan shalat dengan menyempurnakan bacaan al-Qur’an, tasyahhud, serta shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”
Shalat telah ditentukan waktunya oleh Allah Ta’ala; yang fardhu lima kali dalam sehari, dan shalat sunnah yang banyak terdapat di sepanjang siang dan malam hari; seperti Tahajjud, Dhuha, Rawatib, Witir, Syuruq, Hajat, Tasbih, dan sebagainya.
Shalat lima waktu yang terdiri dari Subuh di awal hari, Dhuhur saat istirahat tengah hari, Ashar untuk mensyukuri hari di kala memasuki senja, Maghrib untuk menyambut malam dengan doa dan harapan, serta Isya’ yang merupakan bekal bagi hamba dalam mengarungi malam yang penuh dengan godaan setan, dalam bentuk jin dan manusia.
Dilihat dari segi kesehatan, shalat adalah salah satu kunci utamanya. Dimulai dari pembagian waktu yang langsung ditentukan oleh Allah Ta’ala, terapi air dan pijat dalam wudhu, gerakan-gerakan sistematis yang jauh lebih bermanfaat dari senam tercanggih sekalipun, hingga doa-doa yang dirapalkan; semuanya bisa mengantarkan manusia menuju kesehatan untuk menunjang sukses dunia dan akhirat.
Shalat juga mengajarkan disiplin. Tidak diterima shalat yang sengaja dikerjakan sebelum maupun setelah waktunya berlalu, jika tanpa udzur yang syar’i. Shalat hanya boleh dikerjakan setelah waktunya tiba, dan batal (terganti) dengan shalat lain jika masanya telah berlalu.
Karenanya, kaum muslimin harus mendirikan shalat sebagaimana disyariatkannya. Sebab, jika displin dalam shalat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka sudah pasti seseorang akan mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika kesuksesan yang didamba belum juga menyapa, bisa jadi sebab utamanya sebab kaum muslimin sudah lalai dalam shalat dan meninggalkan spirit shalat dari kehidupan sehari-harinya.
Jadi, sebelum jauh-jauh mencari solusi, mari perbaiki shalat kita.

Berbagi Rezeki

Dalam setiap harta yang diberikan oleh Allah Ta’ala, terdapat hak bagi mereka yang membutuhkan. Berbagi dalam Islam, selain membahagiakan bagi penerima, hal itu juga menjadi sarana untuk membersihkan harta sang pemberi. Pemberian sendiri terbagi dalam dua hal; wajib dan sunnah.
Dalam menjelaskan ini, Ibnu ‘Abbas menyebutnya dengan mengatakan, “Mengeluarkan zakat dari harta kekayaan yang dimiliknya.” Sedangkan as-Suddi meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud menyebutkan, memberikan harta yang dianugerahkan sebagai nafkah seseorang kepada keluarganya.
Menyimpulkan dua pendapat itu, Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan, bahwa memberikan harta yang dikurniakan Allah Ta’ala meliputi yang wajib dan sunnah. Alasannya, “Allah Ta’ala mensifati dan memuji mereka dengan hal itu secara umum. Sementara zakat dan infaq merupakan perbuatan yang sangat terpuji dan mulia.”
Dalam banyak ayat, Allah Ta’ala sering menggandengkan shalat dan zakat. Maka Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa shalat merupakan hak Allah Ta’ala yang mencakup peng-esaan, penyanjungan, pengharapan, pemujian, pemanjatan doa, serta tawakkal pada-Nya. Sedangkan zakat dan infaq merupakan bentuk perbuatan baik kepada sesama makhluk dengan memberikan manfaat kepadanya.
Spirit dari amalan zakat dan infaq ini adalah berbagi kepada orang lain; baik yang membutuhkan ataupun tidak. Seseorang hanya bisa berbagi dengan mudah manakala ia tidak terlalu berhasrat dengan sesuatu itu. Atau, ia menyadari bahwa apa yang diberikan itu akan bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar dalam kehidupannya berupa Ridha Allah Ta’ala.
Orang yang melakukan amalan ini dengan sukarela, maka ia akan disenangi oleh sesama manusia sebab memberikan manfaat kepadanya. Banyak yang simpati, percaya, menaruh harapan, dan itu semua adalah modal baginya untuk menggapai kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup.
Sedangkan di akhirat, Allah Ta’ala akan mengganjar kerelaannya dalam berbagi itu dengan pahala yang amat besar; mulai sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Bukankah ini balasan yang amat besar? Allah Ta’ala yang memberikan harta itu, kemudian Dia pula yang memberikan balasan amat besar ketika seseorang membagikannya sesuai dengan yang disyariatkan-Nya.
Berbagi amat sulit bagi mereka yang kikir jiwa dan gila harta. Karena dalam benaknya, dunia ini abadi dan tak ada kehidupan selepas mati.

Baca, dan Percayailah

Inilah kunci terakhir dari empat kunci sukses yang Allah Ta’ala firmankan dalam awal surat al-Baqarah. Kunci pertama adalah percaya pada yang ghaib, kedua mendirikan shalat, dan ketiga berbagi rezeki.
Iman adalah kepercayaan kepada al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi dan rasul sebelumnya. Bahwa risalah tauhid itu tersambung dan menjadi inti ajaran semua nabi dan rasul. Dan, ajaran itu disempurnakan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an yang menjadi mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Kata Ibnu ‘Abbas, “Mereka percaya bahwa yang dibawa olehmu (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) berasal dari Allah Ta’ala dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasul sebelummu.” Selain itu, “Mereka tidak membedakan dan tidak ingkar terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul.” Di antara bukti kepercayaan itu adalah meyakini adanya akhirat yang menjadi ajaran semua nabi dan Rasul.
Al-Qur’an sebagai mukjizat Rasulullah adalah petunjuk sepanjang zaman. Di dalamnya terdapat kunci-kunci ilmu pengetahuan modern; biologi, fisika, kimia, astronomi, matematika, ilmu sosial, geografi, dan sebagainya. Bahkan, ilmu-ilmu itu, sudah Allah Ta’ala bocorkan kepada Nabi Muhammad jauh sebelum manusia menemukannya melalui serangkaian eksperimen dan percobaan yang amat panjang.
Karenany, siapa yang akrab dengan al-Qur’an, yang setiap jenaknya tidak lepas dari kitab Allah Ta’ala ini; dengan membaca, mengkaji, menghapal, menyampaikan dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari, maka pandangannya akan jauh ke depan, melebihi batas manusia pada umumnya.
Misalnya tentang efektivitas waktu. Di dalam al-Qur’an disebutkan, “Jika selesai satu urusuan, maka bergegaslah menyelesaikan urusan yang lain.”
Jika satu kandungan ini diamalkan dengan sangat baik oleh kaum muslimin, bukankah keberhasilan sudah pasti berada dalam genggaman mereka? Mereka akan amanah dengan jabatan yang diberikan hingga batas akhirnya, menjalankan semua peran sebaik mungkin, tidak tergesa-gesa, dan bersegera untuk mengeksekusi rencana-rencana besar yang telah menunggu.
Ini hanya satu ayat dalam al-Qur’an, sementara tafsirnya sudah sangat panjang dan mendalam. Karenanya, jika semua kaum muslimin dekat dan akrab dengan Kitab Suci ini, keberhasilan dunia adalah jaminan, dan keselamatan akhirat akan diberikan kepadanya.
Tentu, keberhasilan dunia versi Allah Ta’ala, bukan versi manusia yang terbatas pengetahuannya, namun sering berlebih-lebihan dalam banyak hal.
Semoga Allah Ta’ala karuniakan sukses dunia dan akhirat kepada kita. Aamiin. [NUSWANTARA COM]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar