EMPAT KUNCI SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT.

Ilustrasi.
NUSWANTARA COM - Mahasuci Allah Ta’ala yang telah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melalui malaikat Jibril ‘Alaihis sallam. Itulah petunjuk yang paling benar, tak ada kesesatan maupun kebengkokan di dalamnya. Siapa yang percaya dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, jaminannya adalah sukses di dunia dan sejahtera di akhirat.
Ilustrasi.
NUSWANTARA COM - Mahasuci Allah Ta’ala yang telah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melalui malaikat Jibril ‘Alaihis sallam. Itulah petunjuk yang paling benar, tak ada kesesatan maupun kebengkokan di dalamnya. Siapa yang percaya dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, jaminannya adalah sukses di dunia dan sejahtera di akhirat.
Sedangkan orang yang ingkar terhadap apa
yang ada di dalamnya, kemudian menghalang-halangi orang lain untuk
mendapatkan hikmah darinya, lalu mereka berpaling mencari petunjuk
kehidupan yang lain; bagi mereka kesesatan hidup di dunia yang ujungnya
siksa neraka.
Ada kiat sukses dunia dan akhirat yang
Allah Ta’ala sampaikan di awal surat al-Baqarah. Sayangnya, kunci ini
jarang dimanfaatkan oleh kaum muslimin; entah karena ketidaktahuan
maupun kesengajaan. Bahkan, banyak yang melakukan amalan ini, namun tak
sedikit pun ada penghayatan. Sebab mereka hanya menganggapnya sebagai
kewajiban semata.
Percaya pada yang Ghaib
Banyak yang menolak Islam karena perkara
ini. Mereka hanya percaya pada yang tampak saja. Sedangkan untuk sesuatu
yang tak bisa diindra, mereka menolaknya mentah-mentah. Apalagi
terhadap ajaran-ajaran yang nampak tidak logis sebab tidak sesuai dengan
logika manusia. Padahal, logika dan alat indra yang Allah Ta’ala
kurniakan kepada manusia amatlah terbatas jika digunakan untuk mengakses
segala pengetahuan keghaiban-Nya yang Maha sempurna.
Iman kepada yang ghaib menurut penafsiran
ulama’ adalah percaya kepada Allah Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, surga, neraka dan
pertemuan dengan-Nya. Kemudian mempercayai adanya kehidupan selepas
kematian sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amal yang dilakukan di
dunia ini.
Jika seseorang percaya akan hal itu
semua, maka ia akan sangat berhati-hati dalam hidup, memanfaatkan
seluruh potensi untuk kebaikan, mengenyahkan apa yang yang tak
bermanfaat bagi dirinya, dan bersegera mengumpulkan bekal untuk
kehidupan selepas mati. Inilah yang menjadi salah satu kunci
keberhasilan pendahulu umat ini sehingga berhasil menjadi generasi
terbaik sepanjang sejarah yang namanya harum disebut-sebut dalam
al-Qur’an, hadits, maupun sejarah kehidupan manusia hingga akhir zaman.
Sebaliknya, mereka yang hanya percaya
kehidupan dunia dan menafikan akhirat, sejatinya yang ia lakukan
hanyalah menggali kuburnya, dan siksa neraka telah menantinya.Dirikan Lima yang Wajib dan Sunnah
Inilah tiangnya agama. Shalat. Siapa
mendirikannya, ia telah menegakkan agamanya. Sedangkan yang
meninggalkannya, selain merobohkan agama, baginya predikat kafir dan
terjamin atasnya siksa neraka jika meninggal sebelum wafat.
Mendirikan shalat, oleh
adh-Dhahhak dan Ibnu Abbas dijelaskan sebagai mengerjakan rukuk, sujud,
dan bacaan shalat dengan sempurna, serta penuh kekhusyukan. Khusyuk
ialah tenang, fokus, dan mengikhlaskan seluruh amal hanya untuk Allah
Ta’ala. Kekhusyukan dalam shalat akan terlihat pula dalam fisik, dan
kehidupan sehari-hari di luar shalat.
Sedangkan Qatadah mendefinisikan mendirikan shalat
dengan mengatakan, “Mengerjakannya dengan menjaga waktunya,
menyempurnakan wudhu, rukuk dan sujudnya.” Sedangkan Muqatil bin Hayyan
menambahkan makna mendirikan shalat dengan menyempurnakan bacaan al-Qur’an, tasyahhud, serta shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”
Shalat telah ditentukan waktunya oleh
Allah Ta’ala; yang fardhu lima kali dalam sehari, dan shalat sunnah yang
banyak terdapat di sepanjang siang dan malam hari; seperti Tahajjud,
Dhuha, Rawatib, Witir, Syuruq, Hajat, Tasbih, dan sebagainya.
Shalat lima waktu yang terdiri dari Subuh
di awal hari, Dhuhur saat istirahat tengah hari, Ashar untuk mensyukuri
hari di kala memasuki senja, Maghrib untuk menyambut malam dengan doa
dan harapan, serta Isya’ yang merupakan bekal bagi hamba dalam
mengarungi malam yang penuh dengan godaan setan, dalam bentuk jin dan
manusia.
Dilihat dari segi kesehatan, shalat
adalah salah satu kunci utamanya. Dimulai dari pembagian waktu yang
langsung ditentukan oleh Allah Ta’ala, terapi air dan pijat dalam wudhu,
gerakan-gerakan sistematis yang jauh lebih bermanfaat dari senam
tercanggih sekalipun, hingga doa-doa yang dirapalkan; semuanya bisa
mengantarkan manusia menuju kesehatan untuk menunjang sukses dunia dan
akhirat.
Shalat juga mengajarkan disiplin. Tidak
diterima shalat yang sengaja dikerjakan sebelum maupun setelah waktunya
berlalu, jika tanpa udzur yang syar’i. Shalat hanya boleh dikerjakan
setelah waktunya tiba, dan batal (terganti) dengan shalat lain jika
masanya telah berlalu.
Karenanya, kaum muslimin harus mendirikan
shalat sebagaimana disyariatkannya. Sebab, jika displin dalam shalat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka sudah pasti seseorang akan
mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika
kesuksesan yang didamba belum juga menyapa, bisa jadi sebab utamanya
sebab kaum muslimin sudah lalai dalam shalat dan meninggalkan spirit
shalat dari kehidupan sehari-harinya.
Jadi, sebelum jauh-jauh mencari solusi, mari perbaiki shalat kita.Berbagi Rezeki
Dalam setiap harta yang diberikan oleh
Allah Ta’ala, terdapat hak bagi mereka yang membutuhkan. Berbagi dalam
Islam, selain membahagiakan bagi penerima, hal itu juga menjadi sarana
untuk membersihkan harta sang pemberi. Pemberian sendiri terbagi dalam
dua hal; wajib dan sunnah.
Dalam menjelaskan ini, Ibnu ‘Abbas
menyebutnya dengan mengatakan, “Mengeluarkan zakat dari harta kekayaan
yang dimiliknya.” Sedangkan as-Suddi meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan
Ibnu Mas’ud menyebutkan, memberikan harta yang dianugerahkan sebagai
nafkah seseorang kepada keluarganya.
Menyimpulkan dua pendapat itu, Ibnu Jarir
ath-Thabari mengatakan, bahwa memberikan harta yang dikurniakan Allah
Ta’ala meliputi yang wajib dan sunnah. Alasannya, “Allah Ta’ala
mensifati dan memuji mereka dengan hal itu secara umum. Sementara zakat
dan infaq merupakan perbuatan yang sangat terpuji dan mulia.”
Dalam banyak ayat, Allah Ta’ala sering
menggandengkan shalat dan zakat. Maka Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa
shalat merupakan hak Allah Ta’ala yang mencakup peng-esaan,
penyanjungan, pengharapan, pemujian, pemanjatan doa, serta tawakkal
pada-Nya. Sedangkan zakat dan infaq merupakan bentuk perbuatan baik
kepada sesama makhluk dengan memberikan manfaat kepadanya.
Spirit dari amalan zakat dan infaq ini
adalah berbagi kepada orang lain; baik yang membutuhkan ataupun tidak.
Seseorang hanya bisa berbagi dengan mudah manakala ia tidak terlalu
berhasrat dengan sesuatu itu. Atau, ia menyadari bahwa apa yang
diberikan itu akan bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar dalam
kehidupannya berupa Ridha Allah Ta’ala.
Orang yang melakukan amalan ini dengan
sukarela, maka ia akan disenangi oleh sesama manusia sebab memberikan
manfaat kepadanya. Banyak yang simpati, percaya, menaruh harapan, dan
itu semua adalah modal baginya untuk menggapai kesuksesan dan
keberhasilan dalam hidup.
Sedangkan di akhirat, Allah Ta’ala akan
mengganjar kerelaannya dalam berbagi itu dengan pahala yang amat besar;
mulai sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Bukankah ini balasan yang
amat besar? Allah Ta’ala yang memberikan harta itu, kemudian Dia pula
yang memberikan balasan amat besar ketika seseorang membagikannya sesuai
dengan yang disyariatkan-Nya.
Berbagi amat sulit bagi mereka yang kikir
jiwa dan gila harta. Karena dalam benaknya, dunia ini abadi dan tak ada
kehidupan selepas mati.Baca, dan Percayailah
Inilah kunci terakhir dari empat kunci sukses yang Allah Ta’ala firmankan dalam awal surat al-Baqarah. Kunci pertama adalah percaya pada yang ghaib, kedua mendirikan shalat, dan ketiga berbagi rezeki.
Iman adalah kepercayaan kepada al-Qur’an
yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga
kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi dan rasul sebelumnya.
Bahwa risalah tauhid itu tersambung dan menjadi inti ajaran semua nabi
dan rasul. Dan, ajaran itu disempurnakan oleh Allah Ta’ala dalam
al-Qur’an yang menjadi mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam.
Kata Ibnu ‘Abbas, “Mereka percaya bahwa
yang dibawa olehmu (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) berasal dari
Allah Ta’ala dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasul sebelummu.”
Selain itu, “Mereka tidak membedakan dan tidak ingkar terhadap apa yang
dibawa oleh para Rasul.” Di antara bukti kepercayaan itu adalah meyakini
adanya akhirat yang menjadi ajaran semua nabi dan Rasul.
Al-Qur’an sebagai mukjizat Rasulullah
adalah petunjuk sepanjang zaman. Di dalamnya terdapat kunci-kunci ilmu
pengetahuan modern; biologi, fisika, kimia, astronomi, matematika, ilmu
sosial, geografi, dan sebagainya. Bahkan, ilmu-ilmu itu, sudah Allah
Ta’ala bocorkan kepada Nabi Muhammad jauh sebelum manusia menemukannya
melalui serangkaian eksperimen dan percobaan yang amat panjang.
Karenany, siapa yang akrab dengan
al-Qur’an, yang setiap jenaknya tidak lepas dari kitab Allah Ta’ala ini;
dengan membaca, mengkaji, menghapal, menyampaikan dan mengamalkan
kandungannya dalam kehidupan sehari-hari, maka pandangannya akan jauh ke
depan, melebihi batas manusia pada umumnya.
Misalnya tentang efektivitas waktu. Di
dalam al-Qur’an disebutkan, “Jika selesai satu urusuan, maka bergegaslah
menyelesaikan urusan yang lain.”
Jika satu kandungan ini diamalkan dengan
sangat baik oleh kaum muslimin, bukankah keberhasilan sudah pasti berada
dalam genggaman mereka? Mereka akan amanah dengan jabatan yang
diberikan hingga batas akhirnya, menjalankan semua peran sebaik mungkin,
tidak tergesa-gesa, dan bersegera untuk mengeksekusi rencana-rencana
besar yang telah menunggu.
Ini hanya satu ayat dalam al-Qur’an,
sementara tafsirnya sudah sangat panjang dan mendalam. Karenanya, jika
semua kaum muslimin dekat dan akrab dengan Kitab Suci ini, keberhasilan
dunia adalah jaminan, dan keselamatan akhirat akan diberikan kepadanya.
Tentu, keberhasilan dunia versi Allah
Ta’ala, bukan versi manusia yang terbatas pengetahuannya, namun sering
berlebih-lebihan dalam banyak hal.
Semoga Allah Ta’ala karuniakan sukses dunia dan akhirat kepada kita. Aamiin. [NUSWANTARA COM]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar