ASURANSI TERBAIK.

Ilustrasi.
NUSWANTARA COM - Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.
Ayat yang pertama,
Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
Ilustrasi.
NUSWANTARA COM - Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.
Para
orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan
perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah
anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan
masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang
paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat
apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Bagi
yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang
harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail
tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu
tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan.
Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan
sama sekali bagi anak-anak kita.
Lihatlah kisah berikut ini:
Dalam
buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang
dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan
Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki
dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah
warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar.
Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah
dinar.
Dengan peninggalan melimpah
dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak
membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam
keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali
hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi
sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan
penunggang kuda.
Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.
Kisah
ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang
disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1
juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar
untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju
kefakiran.
Melihat kisah tersebut
kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan
untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp
1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan
keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan
mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan
harta itu.
Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.
Bahkan
berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya
peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.
Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,
وَأَمَّا
الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ
تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ
أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ
رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah
kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta
benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang
shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada
kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari
Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)
Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat
ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya
dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa
Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan
bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak
disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan
keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat:
(dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang
shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi
mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya
derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat
mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata
dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka.
Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah
dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam
Ayat yang kedua,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya
pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia
melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika
Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin
Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah
mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan
mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka
akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.
Umar
bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah.
Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari
harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku
tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain.
Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah:
((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى
الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah
akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang
pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar
ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)
Begitulah
ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah
yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak
anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin
pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak
sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya
itu benar.
Umar bin Abdul Aziz
sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat
besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya.
Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka.
Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan
yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.
Tapi
tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa
takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang
shalih hasil didikannya.
Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:
Bagi
yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan,
asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak
diragukan kehalalannya.
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.
Jaminan
yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak, yang akan
menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan
keshalihan anak-anak.
Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga. Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah. [NUSWANTARA COM]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar